Tuesday, December 26, 2006
genggam tanganku
genggam tanganku ... agar tanganku tidak telanjang...
aku kedinginan....
aku kedinginan....
jangan pernah kau cari pengganti untukku
bukankah berulang kali kukatakan;
"kau tak akan terganti"
seribu laki" datang, hadir dan menunggu
sungguh mereka tiada bagiku.
takkan pernah sekalipun dalam hidupku..
mempertanyakan cintamu lagi
aku tau..... tiada.
cinta ini tak mungkin kupindahkan lagi
ini terakhir... bagiku.
pergi saja kemana kau mau
jangan paksa aku bahagia
karena, sungguh.. aku tak mau
jika tanpamu.
pergi saja..., tak usah kau risaukan aku.
bukankah berulang kali kukatakan;
"kau tak akan terganti"
seribu laki" datang, hadir dan menunggu
sungguh mereka tiada bagiku.
takkan pernah sekalipun dalam hidupku..
mempertanyakan cintamu lagi
aku tau..... tiada.
cinta ini tak mungkin kupindahkan lagi
ini terakhir... bagiku.
pergi saja kemana kau mau
jangan paksa aku bahagia
karena, sungguh.. aku tak mau
jika tanpamu.
pergi saja..., tak usah kau risaukan aku.
...
harus kurasa pergi
kan kututup diri
dan kukunci rapat" hati ini
hingga tiada cinta lagi
bantuku berdiri walau cuma dengan bayangmu
buatku tertawa dengan semu
hapus tiap goresan luka yang kau torehkan dalam
menghempas semua asaku...
tinggalkanku perlahan, sayang..
karena sendiri ku tak mampu
kan kututup diri
dan kukunci rapat" hati ini
hingga tiada cinta lagi
bantuku berdiri walau cuma dengan bayangmu
buatku tertawa dengan semu
hapus tiap goresan luka yang kau torehkan dalam
menghempas semua asaku...
tinggalkanku perlahan, sayang..
karena sendiri ku tak mampu
Sunday, December 24, 2006
pada mulanya hati
pada mulanya adalah kaki
lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
pada mulanya adalah hati
lalu perjuangan dari ragu ke ragu.
lalu perjalanan dari sepatu ke sepatu
pada mulanya adalah hati
lalu perjuangan dari ragu ke ragu.
tak ada lagi yang bisa kulakukan
"tunggu aku...", katamu
dalam mimpiku suatu malam
dan seketika itu pula hidup berubah
menelan semua ambisi yang pernah ada
terlena dalam penantian yang ku pun tak tau maknanya
setia dalam tiada.
telah lama tak tau lagi artinya nyata
fana yang ada
larut dalam fatamorgana
koma...
hanya mimpi yang mampu terlihat
walau bisikan" untuk bangun sering hadir
dan terdengar hangat berusaha menyadarkanku
tapi sungguh alam bawah sadar ini kucintai
sepenuh jiwa
mungkin ku tlah terbiasa
lupakan aku, masa depanku...
karna aku tlah mati dalam nyata.
"tunggu aku...", katamu
dalam mimpiku suatu malam
dan seketika itu pula hidup berubah
menelan semua ambisi yang pernah ada
terlena dalam penantian yang ku pun tak tau maknanya
setia dalam tiada.
telah lama tak tau lagi artinya nyata
fana yang ada
larut dalam fatamorgana
koma...
hanya mimpi yang mampu terlihat
walau bisikan" untuk bangun sering hadir
dan terdengar hangat berusaha menyadarkanku
tapi sungguh alam bawah sadar ini kucintai
sepenuh jiwa
mungkin ku tlah terbiasa
lupakan aku, masa depanku...
karna aku tlah mati dalam nyata.
Thursday, December 21, 2006
dekaplah aku
Kemesraan dan kelembutanmu
Membuatku selalu ingin dekat denganmu
Dekaplah daku dengan kasihmu jangan kau lepaskan
Biarlah kukembali bermimpi lagi
Bahagia nanti berada di dalam hangatnya pelukan
Hangatnya pelukanmu
Janganlah berakhir kebersamaan ini
Kuingin selalu ada disisimu selama-lamanya
Oh terkadang ku merasa gelisah
Dan sungguh takut kehilangan cinta padamu
Dekaplah daku dengan kasihmu
Jangan kau lepaskan biarkan kukembali bermimpi
Membuatku selalu ingin dekat denganmu
Dekaplah daku dengan kasihmu jangan kau lepaskan
Biarlah kukembali bermimpi lagi
Bahagia nanti berada di dalam hangatnya pelukan
Hangatnya pelukanmu
Janganlah berakhir kebersamaan ini
Kuingin selalu ada disisimu selama-lamanya
Oh terkadang ku merasa gelisah
Dan sungguh takut kehilangan cinta padamu
Dekaplah daku dengan kasihmu
Jangan kau lepaskan biarkan kukembali bermimpi
andai
Andai kau mengerti perasaanku
Hari sunyi tanpa dirimu
senyumanmu memberi kesejukan jiwa
Siang dan malam terbayang wajahmu
pesonamu mengusik kalbu
begitulah aku mendambakan dirimu
bagai malam membutuhkan sinar rembulan
Hari sunyi tanpa dirimu
senyumanmu memberi kesejukan jiwa
Siang dan malam terbayang wajahmu
pesonamu mengusik kalbu
begitulah aku mendambakan dirimu
bagai malam membutuhkan sinar rembulan
Tuesday, December 19, 2006
jika itu yang kau mau
kan kutahan tiap angin yang berhembus
terpa aku, kataku..
jika dingin kau hindari
biar kupeluk erat
kan kuberi seluruh kehangatan ini
hingga pun harus tak tersisa lagi untukku...
jika hujan pun tak ingin lagi kau temui
asal kau tau
aku akan selalu jadi rumahmu
walau hanya persinggahan... bukan tempatmu pulang
dan jika airmata kau benci, sayang
biar segala sedih
luka..
lara...
dan airmata ini
kan kusimpan sendiri
takkan kubagi lagi..
kan kutahan tiap angin yang berhembus
terpa aku, kataku..
jika dingin kau hindari
biar kupeluk erat
kan kuberi seluruh kehangatan ini
hingga pun harus tak tersisa lagi untukku...
jika hujan pun tak ingin lagi kau temui
asal kau tau
aku akan selalu jadi rumahmu
walau hanya persinggahan... bukan tempatmu pulang
dan jika airmata kau benci, sayang
biar segala sedih
luka..
lara...
dan airmata ini
kan kusimpan sendiri
takkan kubagi lagi..
aku bukan pecundang
"Sudahlah, kita tidak bisa selalu dapat apa yang kita ingin kan.."
"Mungkin itu bukan jalan yang dibuat untuk hidup kamu..."
Itu adalah dua kalimat yang sangat saya benci.
Kenapa?Karena kata-kata tersebut hanya keluar dari mulut seorang pecundang, sebagai alasan tidak berusaha lebih keras lagi untuk meraih apa yang diimpikan.
Hey kamu, pecundang..., iya kamu! Percuma berusaha menularkan kekalahan pada saya. Nggak akan berhasil! Saya nggak akan berhenti.
Lagian, kamu tau nggak sih, saya tuh selalu dapat apa yang saya mau dengan NGOTOT seperti ini. (Ehm, oh iya, saya lupa, kamu kan pecundang, jadi kamu tidak akan tau ini).
Kalau pada akhirnya memang tidak bisa, baru saya dengan rela berkata 'memang itu bukan jalan saya'.
But at least, I've tried, right?Duuuhhh.....
"Mungkin itu bukan jalan yang dibuat untuk hidup kamu..."
Itu adalah dua kalimat yang sangat saya benci.
Kenapa?Karena kata-kata tersebut hanya keluar dari mulut seorang pecundang, sebagai alasan tidak berusaha lebih keras lagi untuk meraih apa yang diimpikan.
Hey kamu, pecundang..., iya kamu! Percuma berusaha menularkan kekalahan pada saya. Nggak akan berhasil! Saya nggak akan berhenti.
Lagian, kamu tau nggak sih, saya tuh selalu dapat apa yang saya mau dengan NGOTOT seperti ini. (Ehm, oh iya, saya lupa, kamu kan pecundang, jadi kamu tidak akan tau ini).
Kalau pada akhirnya memang tidak bisa, baru saya dengan rela berkata 'memang itu bukan jalan saya'.
But at least, I've tried, right?Duuuhhh.....
k u y u p
Jangan Engkau tiupkan lagi angin ..........,
hati ini telah menggigil karena dingin..........
Janganlah Engkau turunkan lagi hujan.........
tubuh ini telah basah kuyup oleh air mata..........
hati ini telah menggigil karena dingin..........
Janganlah Engkau turunkan lagi hujan.........
tubuh ini telah basah kuyup oleh air mata..........
episode jingga
lentanglah di atas dadaku. lagi. lekaslah akas bersama tetas telur dan ruah susu sepanjang bibirmu. yang biasa melengking menggiring letus kenangan percintaan dari ribuan keadaan. biarpun dingin sampai jangat akan kupeluk hingga kabut larut dilecut selimut. makanlah tubuhku kalau kau lapar-selalu kutawarkan tanpa sungkan.
"rindu untuk disampaikan, cinta untuk diderita." sekalipun pengalaman tidak dapat diulang, ? kita lupa desah, berciuman dalam terang-kitapun berjanji untuk saling memangsa sihir dalam tubuh, dari ribuan ciuman. bersama-bulan mencium bintangbintang. cahaya gerakan rendahmu menyinari setiap penciptaan, tanpa nafas penyangkalan. kita terus percaya: cinta takkan menuakan kita
"rindu untuk disampaikan, cinta untuk diderita." sekalipun pengalaman tidak dapat diulang, ? kita lupa desah, berciuman dalam terang-kitapun berjanji untuk saling memangsa sihir dalam tubuh, dari ribuan ciuman. bersama-bulan mencium bintangbintang. cahaya gerakan rendahmu menyinari setiap penciptaan, tanpa nafas penyangkalan. kita terus percaya: cinta takkan menuakan kita
aku cinta padamu
aku cinta padamu. ada pertanyaan? {kalau tidak ada, kita melompat ke level berikutnya} ^_^
kubuka genggaman tanganku
dan kudapati hampa,
kabut kian tebal
menyelimuti
mengapa tiada asa yang mampu kulihat lagi?
logika yang selama ini kukira hebat,
kemana perginya?
........
mati...
hati mengalahkan pikiranku.
kukira cinta akhirnya,
ternyata luka
yang selama ini kucari sendiri.....
dan kudapati hampa,
kabut kian tebal
menyelimuti
mengapa tiada asa yang mampu kulihat lagi?
logika yang selama ini kukira hebat,
kemana perginya?
........
mati...
hati mengalahkan pikiranku.
kukira cinta akhirnya,
ternyata luka
yang selama ini kucari sendiri.....
Monday, December 04, 2006
Izinkan Aku Menciummu Bu
Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari, aku 'dipaksa' membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.
Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.
Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
Bahkan sepulang sekolah, ia tak mengizinkanku bermain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, aku pun harus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.
Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku juga akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.
Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-Kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu.
Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu.Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.
Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepergian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku disaat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.
Di usiaku yang menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya.
Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yang trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan satu-dua meter didepannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya.
Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik, ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal juga aku tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.
Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.
Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski Ibu bukan orang berpendidikan, tapi do'a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.
Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali memberikan kecupan hangatnya ketika aku terlahir ke dunia ini.
Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguk nya atau menanyai kabarnya. Aku sangat ingin menjadi istri yang baik dan taat kepada suamiku hingga tak jarang aku membunuh kerinduanku pada Ibu. Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibanding kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.
